Pada suatu hari, akan dilaksanakan ulangan fisika, Imam merupakan satu-satunya siswa dari mereka bertiga yang paling pintar, Ratna hanya pintar dalam 1 bidang saja, yaitu bidang musik, sementara Ari merupakan siswa yang sangat patuh pada perintah Ibunya.
Setelah selesai ulangan fisika, nilai Ari dan Ratna sangat buruk sekali, Ratna mendapat 41 dan Ari mendapat 34.
Imam : “eh.. kalian ini, aku yakin nanti malam kalian akan diceramahi.”
Ratna : “alah.. aku sudah terbiasa, lebih baik main gitar daripada pusing-pusing, Ibuku juga nanti diam sendiri.”
Ari : “apapun yang Ibuku katakan, aku akan menurutinya, udah gitu aja”
Ratna : ”kalau Ibumu menyuruhmu memakan kotoran ayam, apa kamu mau melakukannya?”
Ari : ”kenapa tidak? Asalkan Ibuku yang menyuruh, kotoran apapun pasti aku makan”
Imam dan Ratna merasa sangat merinding mendengar jawaban tersebut. Tidak lama kemudian datang Adi, salah satu siswa dari kelas unggulan
Adi : “hah 71? Kamu 43? Ini lagi 34? Nilai 71 itu yang paling rendah dikelasku, lihat ini 97.”
Ratna : ”Ah.. peduli amat lah!“
Adi : “hem.. dasar para pelajar buangan!”
Imam : “hey, apa maksud kamu berbicara seperti itu?”
Ratna : “kurang ajar banget sih, rasakan ini!”
Ratna lalu menampar Adi, lantas tidak lama kemudian orang-orang disekitar melapornya ke ruang kepala sekolah
Siti : “Ratna apa benar kamu menamparnya ?”
Adi : “dia menamparku disini!” (sambil menunjuk pipinya yang merah)
Ratna : “dia mengejekku duluan bu, jadi aku ya balas tampar dia”
Imam : ”benar, aku saksinya, Adi mengejeknya, dan Ratna terpancing emosi hingga dia menamparnya”
Siti : ”apapun itu, setidaknya kamu butuh dua saksi untuk mengelak”
Imam & Ratna : ”ARI!“
Lalu Ari datang sambil menangis
Ari : ”aku tidak melihat apa-apa”
Imam & Ratna : “Heeee!”
Ari : ”Ibuku bilang aku tidak boleh ikut campur”
Siti : ”Baiklah Ratna, Ibu akan laporkan kamu pada Ibumu”
Ratna : ”ya sudah terserah kamu sajalah apa mau kamu”
Siti : ”apa kamu bilang?”
Imam : ”dia nggak ngomong apa-apa bu”
Siti : ”baiklah, sekarang kalian boleh keluar”
Dirumah Ratna.....
Syifa : ”apakah yang Ibu dengar ini benar?”
Ratna : ”apa?”
Syifa : ”kamu menampar Adi kan? Nilai ulangan fisikamu juga jeblok!”
Ratna : ”benar, tapi dia mengejekku lebih dulu bu! Masalah ulangan, aku memang tidak berbakat..hehe”
Syifa : ”ah.. kamu ini, kamu harus belajar lebih giat, rajin dan berusaha maksimal, kelasmu ini kelas pengasingan, kamu masih juga bermalas-malasan, kali ini Ibu akan mengajarimu, kamu harus patuh”
Ratna : “ya, baik bu”
Syifa : ”bagian mana yang tidak kamu mengerti?”
Ratna : ”semuanya bu...hihi”
Syifa : ”baiklah, kita mulai dari yang ini, rumusnya ini di kalikan ini, kemudian kamu bagi dengan yang ini. Hasilnya kamu kurangi dengan ini, sudah mengerti kan?”
Ratna hanya menggelengkan kepalanya tanpa sepatah kata pun. Hari itu sampai larut malam Syifa mengajarinya dengan serius.
Kemudian, keesokan harinya Syifa, Atih dan Resa bertemu di sebuah supermarket kemudian mereka berbincang-bincang
Atih : ”aduuuh sayang sekali padahal kalau anakku dapat nilai 75 dia bisa lepas dari kelas pengasingan.”
Resa : ”anakku malah jauh nilainya, tapi aku tidak khawatir, asalkan dia bisa mengurus perusahaan kelak, masa depan nya masih jelas”
Syifa : ”anakku, sepertinya dia memang tidak berbakat, sepulang sekolah dia hanya bermain gitar. Aku tidak tahu harus berbuat apa, setiap malam aku mengajarinya. Tapi dia tetap tidak mengerti, dan dia sendiri juga terlihat kurang antusias”
Atih : “Lebih baik, jika dia dapat nilai buruk atau tidak mengerti saat diajari, kamu pukul saja dia biar kapok!”
Resa : “kalau aku sih puji saja dia, supaya lebih semangat lagi.”
Atih : ”ad.. ada-ada saja kamu”
Syifa : ”apa? Merotaninya? Ya ampun! Aku tidak tega dong”
Atih : ”benar, lama kelamaan dia akan mengerti juga”
Syifa : ”baiklah, akan kucoba”
Akhirnya Syifa menerapkan saran yang diberikan Atih
Disekolah .....
Siti : ”anak-anak, kenalkan nama saya Siti, Ibu menggantikan Ibu Janah mengajarkan fisika kepada kalian”
Ari : ”Apa Ibu janah dipecat?”
Imam : ”hahahaha.. dasar si tukang patuh, apa Ibumu yang yang menyuruhmu mengatakan itu?”
Ari : ”aku hanya penasaran, tiba-tiba saja dia menghilang lalu digantikan”
Siti : ”beliau sedang cuti, selama dia cuti Ibu yang menggantikanya”
Ari : ”ooooh gitu!”
Siti : ”Ibu belum mengetahui kemampuan kalian pada mata pelajaran fisika, besok Ibu akan mengadakan ulangan“
Ratna : ”apa? ulangan?“
Siti : ”Iya, apa ada masalah?”
Imam : ”Ratna ssst , mmm. Tidak ada apa-apa bu.”
Sepulang sekolah
Ratna : ”heh dam, kamu kan pinter fisika, nanti kasih aku contekan ya!”
Imam : ”boleh-boleh, buat kalian gratis deh“
Ratna dan Ari : ”SIP!”
Di rumah Ratna
Syifa : ”kamu sudah belajar? Main gitar terus kamu ini“
Ratna : ”aku nggak ngerti bu, ga ada yg ngajarin“
Syifa : ”kali ini Ibu serius, kamu harus belajar, kalau tidak...”
Ratna : ”kalau tidak apa bu?”
Syifa : ”dengan berat hati Ibu akan memukulmu”
Plak! Rotan dipukul ke tangan Ratna karena Ratna tidak mengerti mengerti.
Ratna : ”sakit buuu”
Syifa : ”makanya kamu harus bisa!”
Pyar.. pyar.. pyar.. pyar..
Setelah berhari-hari merotani Ratna, Syifa kelelahan dan sebenarnya dia tidak tega, dia pun jatuh sakit.Keesokan harinya Ratna merasa tidak bersemangat sekolah, padahal hari itu akan ulangan.
Saat itu dikabarkan bahwa Syifa menderita kanker darah, dan harus segera mendapat donor cangkok sumsum tulang belakang.
Ratna : ”Ibu ku sakit parah, kalau dia tidak menerima cangkok sumsum secepatnya umurnya hanya tinggal 3 bulan”
Imam : ”apa sudah ada pendonor yang cocok untuknya?”
Ratna menggelengkan kepalanya
Imam dan Ari : ”haaaah?”
Lalu menundukan kepala mereka. Tiba-tiba...
Ari : ”tapi ada bagusnya juga”
Imam : ”apa Ri?”
Ari : ”biarkan saja Ibumu mati Na, kalau dia mati kan kamu tidak akan dirotaninya lagi”
Ratna : ”apa? apa yang kamu katakan?!”
Pyar.. !
Ratna lalu menampar Ari.. tiba-tiba bu Siti datang, dia melihat lalu menggelengkan kepalanya sambil melihat Ratna yang telah menampar Ari..
Siti : ”ikut Ibu ke kantor”
Ratna lalu diseret ke kantor bu Siti
Siti : ”ulangan jelek, memukul Adi, memukul temanmu sendiri, kamu ini siswa atau preman?”
Ratna : ”aku..aku hanyaa....”
Siti : ”apa? Kamu mau cari alasan, akan ku laporkan pada Ibumu agar dia merotanmu lagi”
Resa : ”bu Siti, jangan kasar padanya. Aku yakin dia punya alasan tersendiri untuk itu”
Siti : ”kamu membelanya lagi?”
Resa : ”aa...aku hanya”
Ratna : ”aku hanya berharap Ibuku bisa sembuh, dan merotaniku lagi, andai saja “
Lalu Ratna pergi
Selain itu nilai ulangan Ratna kali ini hanya 55 nilai Imam 91 dan Ari 42
Imam : ”aku mengerti keadaanmu Na, kamu bawa saja kertas ulangan ku, lalu ganti dengan nama mu”
Ratna : ”entahlah, aku tidak yakin”
Ari : ”atau kamu ganti saja kertasku dengan namamu”
Ratna : ”nilai mu lebih jelek dariku, bodoh”
Ari : ”oh iya, hehehe..”
Ratna : ”aku..pulang duluan ya”
Lalu Ratna pergi ke RS untuk menjenguk ibunya.
Ratna : ”maaf bu, aku sudah berusaha, tapi hanya ini yang kubisa”
Syifa lalu mengambil kertas ulangan dan mengenggamnya erat
Tiba-tiba Syifa terdiam membisuSaat itu Siti datang..
Siti : ”permisi , Na..”
Ratna : ”ibuku sudah”
Siti lalu memeriksa Syifa dan..
Siti : ”dia masih hidup, panggil dokter!”
Syifa lalu dipindahkan ke ruang Intesif...
Siti : ”aku akan mencarikan donor sumsum itu segera, bersabarlah Ratna”
Ratna : ”terimakasih ya bu, ibu sudah banyak membantuku”
3 hari kemudian tiba-tiba RS dipenuhi orang yang berniat mendonorkan sumsum mereka.
Tiba-tiba terdaftar Ari
Ratna : ”Ari, apa kamu yakin?”
Ari : ”Sebagai tanda maafku Na”
Tiba-tiba Resa datang
Resa : “Kuyuuuud, kan mama sudah bilang, jangan pernah ikut campur urusan orang lain”
Ari : ”berapa kali aku menuruti perintah mu bu?! biarkan kali ini aku memilih jalan ku sendiri”
Resa : ”baiklah, jaga diri kamu baik-baik”
Akhirnya Ari di bawa ke ruangan agar di cangkokan sumsumnya.
Ari : ”ini tidak sakit , ini tidak sakiit ....uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh!”
Imam : ”itu pasti suara teriakannya, kesakitan banget tuh “
Ratna : ”kamu memang benar, terimakasih Ari !”
Syifa Siti Aisyah Annur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar