Minggu, 10 November 2013

Naskah Drama : 'Niat Mulia'

Dua orang pemuda lanjut usia tengah duduk bersama disebuah halaman. Sesekali salah satu diantaranya menghisap rokok yang berada ditangan kanannya, sedangkan yang lainnya menguap sambil menggaruk-garuk bagian tubuhnya. Cuaca sangat cerah saat itu, kontras sekali dengan mimik wajah kedua pemuda lanjut usia tersebut yang terkesan suram, tidak bertenaga, lemah, lelah, lunglai, letih dan lesu. Keadaan terus hening sampai akhirnya salah satu diantaranya memulai percakapan.

-          Babak 1.A
Pak Andriyana   : “Macam mana pula ini… Sebentar lagi Lebaran Kambing, dan aku tak ada uang untuk beli kambing.”
Pak Akbar            : “Betul, Kang. Saya juga tidak punya uang. Padahal, saya ingin beli kambing yang seperti di TV.”
Pak Andriyana   : “Yang di TV? Kambing macam apa pula itu?”
Pak Akbar            : “Yang… Sa… Sa… Saun… Shaun The Sheep kalau tidak salah, mah.”
Pak Andriyana   : “Bah! Itu kambing hanya animasi! Apa pula kau ini, Bar!”
Pak Akbar            : “Oh, jadi itu teh hanya animasi? Aslinya mah tidak ada yang seperti itu?”
Pak Andriyana   : “Jelas tidak ada!”
Pak Akbra            : “Padahal mah, bagus sekali kambing seperti itu teh. Sangat kreatif dan cerdik. Seperti kancil.”
Pak Andriyana   : “Kau ini bagaimana pula? Yang seperti itu tidak ada didunia ini. Impossible itu, impossible!”
Pak Akbar            : “Wah, saya mah baru tahu, euy!”
Pak Andriyana   : “Ah, terserah kau saja! Yang jelas, bagaimana caranya agar kita bisa dapatkan banyak uang tanpa harus susah-susah cari kerja dulu? Kau ada ide tidak?”
Pak Akbar            : “Mana ada atuh yang seperti itu… Kita teh harus usaha dulu, baru dapat uang. Kalau yang instan mah, hanya mie saja sepertinya, Kang.”
Pak Andriyana   : “Bicara apa kau ini, Bar? Mie? Instan? Ngawur sekali kau ini.”

Tiba-tiba, dua orang ibu-ibu datang dan berhenti tidak jauh dari tempat kedua pemuda lanjut usia itu sedang duduk.

-          Babak 1.B
Bu Endah             : “Bu, tahu gak?”
Bu Sindi               : “Kagak, lah. Lu kan belum ngasih tahu.”
Bu Endah             : “Ya, kan belum selesai, Bu.”
Bu Sindi                : “Oh, oke. Lanjut.”
Ibu Endah            : “Itu lho, Bu. Tetangga baru kita itu, katanya mau ngurbanin 7 sapi, Bu!”
Bu Sindi              : “7? Serius lu?”
Ibu Endah            : “Iya, Bu! Serius, lah!”
Bu Sindi                : “Niat amat itu orang pake ngurbanin 7 sapi segala!”
Bu Endah             : “Eh, masih ada, Bu! Dia juga mau ngurbanin 8 kambing!”
Bu Sindi                : “Buset! Itu orang punya uang berapa banyak? Bagi-bagi dikit ke tetangga bisa kali, ye!”
Bu Endah             : “Nah, benar, Bu! Qurban saja yang banyak, bagi-bagi ke tetangga tidak.”
Bu Sindi               : “Iye, dasar pelit. Eh, denger-denger, die janda, ye?”
Bu Endah             : “Iya, Bu. Katanya sih, ditinggal mati suaminya yang banyak uang. Pengusaha yang mati muda gitu, Bu.”
Bu Sindi               : “Kasihan, ye. Udah pelit, janda lagi. Eh! Hehehe…”
Bu Endah             : “Iya, Bu. Tapi enak lho, janda kaya raya, gitu.”
Bu Sindi               : “Iye ye, bener juga.”
Bu Endah             : “Ah, sudah, Bu. Ayo jalan lagi.”

Ke dua ibu-ibu tukang gosip itu pun pergi. Dan terlihatlah dua pemuda lanjut usia yang salah satunya tampak sedang memikirkan sesuatu.

-          Babak 1.C
Pak Andriyana   : “Bar, kau dengar percakapan ibu-ibu tadi itu?”
Pak Akbar            : “Yang qurban 9 sapi dan 11 kambing?”
Pak Andriyana   : “Ya semua percakapan mereka, lah!”
Pak Akbar            : “Oh, iya saya dengar. Memang kenapa atuh, Kang?”
Pak Andriyana   : “Shuut!!! Kemari, Bar! Aku punya bisnis agar kita bisa dapat uang dengan cepat tanpa harus kerja dahulu!”
Pak Akbar            : “Wah! Bisnis apa itu?”
Pak Andriyana   : (membisikan sesuatu kepada Pak Akbar)
Pak Akbar            : “Astaghfirullahaladzim, Kang! Itu mah tidak baik untuk dilakukan!” (mimik kaget)
Pak Andriyana   : “Bah! Kau ini bagaimana, sih? Katanya butuh uang juga? Ayolah… Ini menarik dan mudah dilakukan sepertinya.”
Pak Akbar            : (berpikir keras) “Ya, sudahlah, Kang. Saya mah nurut saja.” (ekspresi pasrah)
Pak Andriyana   : (menepuk pundak Pak Akbar) “Bagus! Hahaha… Jadi sekarang, kita observasi dulu, Bar. Besok-besok, baru kita lancarkan misi kita. Setuju?”
Pak Akbar            : “Saya setuju saja, kang.”

Kedua pemuda lanjut usia itu pun pergi dari halaman tersebut. Entah apa yang mereka rencanakan, yang jelas kini mereka akan pergi ke suatu tempat. Tempat yang mungkin akan membawa berkah bagi mereka agar mereka bisa dapat uang dengan cara instan, seinstan mie seperti yang Pak Akbar katakan. 

***

                Matahari sore yang tampak ceria membuat suasana sebuah ruang tamu terlihat lebih segar dengan cat kuning yang lembut tapi enerjik. Disana terdapat seorang wanita yang dikenal dengan nama Bu Annisa, sedang membenarkan letak beberapa peralatan rumah tangganya yang berantakan diruang tamu itu. Sapu sana, sapu sini. Keadaan ruang tamu yang cukup untuk dikatakan kacau.

-          Babak 2.A
Bu Annisa            : “Aduh… Ini berantakan sekali rumahku! (beres-beres) Citraaaa! Citra! Kemari, Nak!” (tak lama datang seorang gadis menghampiri Bu Annisa)
Citra                      : “Iya, Bu. Ada apa?” (berjalan dengan santai)
Bu Annisa            : “Kamu tolong bersihkan ruang tamu ini, ya. Ibu mau beres-beres dihalaman belakang dulu.”
Citra                      : “Siap, Bu.”

Citra, anak Bu Annisa, langsung menyapu ruang tamu itu tanpa berkomentar lebih lanjut. Setelah Bu Annisa pergi ke halaman belakang, tiba-tiba datang dua orang pemuda lanjut usia ke rumah Ibu Annisa. Citra yang sedang menyapu ruang tamu pun langsung membuka pintu.

-          Babaik 2.B
Pak Andriyana & Pak Akbar : “Permisi!” (mengetuk pintu)
Citra                      : (membuka pintu) “Ya? Ada keperluan apa?”
Pak Akbar            : “Ibunya ada, Neng?”
Citra                      : “Ada, Pak. Maaf, bapak siapa, ya?”
Pak Akbar            : “Saya Akbar.”
Pak Andriyana   : “Saya Andriyana. Kami petugas keamanan komplek.”
Citra                      : “Oh, iya. Tunggu sebentar, Pak. Silahkan duduk. Saya panggilkan dulu ibu.”
Pak Andriyana & Pak Akbar : “Iya.” (masuk ke dalam ruang tamu, duduk dikursi yang sudah disediakan)

Citra pun pergi keluar untuk memanggil Ibunya yang berada dihalaman belakang. Setelah Citra benar-benar sudah tidak terlihat oleh Pak Andriyana dan Pak Akbar, mereka langsung merencanakan sesuatu.

-          Babak 2.C
Pak Andriyana   : “Lihat, Bar! Rumahnya besar sangat! Pasti banyak uangnya!” (nada bersemangat tapi dengan suara pelan)
Pak Akbar            : “Iya, Kang.” (ekspresi datar)
Pak Andriyana   : “Kita harus segera melakukan observasi rumah ini, Bar!” (menggebu-gebu)
Pak Akbar            : “Iya, Kang.” (masih ekspresi datar)
Pak Andriyana   : “Kira-kira, dimana kamar orang kaya itu? Dimana, Bar?” (celingukan)
Pak Akbar            : “Iya, Kang.” (tetap dengan ekspresi datar)
Pak Andriyana   : “Bah! Macam apa pula kau ini! Aku tanya kau soal dimana kamarnya, kau jawab ‘Iya, Kang.’ ‘Iya, Kang.’ saja!”
Pak Akbar            : “Oh, iya. Maaf, Kang. Saya tidak tahu dimana kamarnya.” (mimik wajah orang tidak berdosa)
Pak Andriyana   : “Dasar kau! Sudahlah, lupakan. Hey Bar, kita lakukan observasi ini dengan cepat! Kau cek ruangan yang itu. Aku cek ruangan yang disitu. Paham?”
Pak Akbar            : “Siap, Kang!”

Pak Akbar dan Pak Andriyana pun berpencar untuk melakukan ‘observasi rumah Bu Annisa’. Namun sial tak dapat ditolak, Untung anaknya Pak Ari. Ehem… Maksudnya, untung tak dapat diraih, baru sebentar melakukan ‘observasi’, Bu Annisa beserta Citra langsung masuk ke dalam ruang tamu tersebut.

-          Babak 2.D
Bu Annisa            : “Aduh! Maaf lama, tadi dibelakang... (terkaget) Lho, Bapak-bapak ini sedang apa?”
Pak Akbar dan Pak Andriyana : (cengar-cengir)
Bu Annisa            : “Kamu sudah mempersilahkan mereka duduk belum?” (menoleh ke Citra)
Citra                      : “Sudah kok, Bu.” (agak sewot)
Bu Annisa            : “Oh, kirain belum. (melihat Pak Andriyana dan Pak Akbar) Pak, silahkan duduk. Jangan berdiri terus, kasihan masa’ tamu dibiarkan berdiri saja.”
Pak Akbar dan Pak Andriyana : “Iya, Bu. Hehehe...” (duduk kembali dikursi yang disediakan)
Bu Annisa            : (duduk dikursi) “Citra, tolong kamu ambilkan minum.”
Citra                      : “Iya, Bu.” (pergi keluar)
Bu Annisa            : “Jadi, bapak-bapak ini petugas keamanan komplek?”
Pak Akbar            : “Bukan, Bu. Sebenarnya kami teh...” (terpotong pembicaraannya)
Pak Andriyana   : (menginjak kaki Pak Akbar) “Iya, Bu. Kami petugas keamanan komplek.”
Pak Akbar            : (mengaduh pelan lalu mengusap kakinya)
Bu Annisa            : (ekspresi bingung) “Oh. Ngomong-ngomong, ada urusan apa ya sampai datang ke rumah saya?”
Pak Andriyana   : “Ehem... Kami kemari hanya mengikuti tugas yang diberikan oleh ketua kami. Beliau meminta kami untuk memeriksa tiap-tiap rumah beserta isinya. Dan hari ini yang mendapat giliran adalah rumah Bu...”
Bu Annisa            : “Bu Annisa, Pak.”
Pak Andriyana   : “Ya, benar! Benar! Rumah milik Bu Annisa.”
Bu Annisa            : “Jadi, bapak-bapak ini mau memeriksa rumah saya?”
Pak Andriyana   : “Iya, Bu.” (menyikut Pak Akbar)
Pak Akbar            : “Eh… Iya, Bu. Hehehe…”
Bu Annisa            : “Oh, iya, Pak. Hari ini, sekarang, atau kapan ya?” (mimik bingung)
Pak Andriyana   : “Kemungkinan, hari Minggu, Bu. Saat sedang ada pengajian di masjid.”
Bu Annisa            : “Oh, iya-iya.” (mengangguk-nganggukan kepala)
Pak Akbar            : “Nanti kami akan datang lagi hari Minggu, Bu.”
Pak Andriyana   : “Terima kasih atas waktunya, Bu. Kami pulang dulu.” (berdiri)
Bu Annisa            : “Iya, Pak! Silahkan. Eh, tidak minum dulu, Pak?”
Pak Akbar            : (berdiri) “Iya, Kang. Kita belum minum. Mubazir juga kan anak Bu Annisa sudah membawakan minum tapi tidak diminum. Kesannya tidak sopan, Kang.”
Pak Andriyana   : (diam-diam menginjak kaki Pak Akbar) “Ah, tidak usah, Bu. Kami sedang buru-buru. Hehehe...”
Pak Akbar            : (mengaduh lalu tersenyum dipaksakan)
Bu Annisa            : “Baiklah, Pak.”
Pak Andriyana   : “Kami pamit, Bu! Permisi~” (menarik Pak Akbar keluar ruangan)
Bu Annisa            : “Iya, Pak. Silahkan. (mengantar Pak Akbar dan Pak Andriyana sampai depan pintu) Tunggu… (berhenti dekat pintu) Tadi katanya yang dapat giliran untuk dicek hari ini itu rumah saya, tapi kok malah Hari Minggu jadinya? (berpikir agak lama) Ah, entahlah~” (keluar dari ruangan)

                Biarpun Bu Annisa merasakan adanya kejanggalan dari apa yang telah 2 pemuda itu bicarakan, Bu Annisa tetap mencoba untuk berpikiran positif. Dia juga mencoba untuk tidak menghiraukan perasaannya yang mulai tidak enak sejak 2 pemuda itu menunjukan gelagat-gelagat aneh yang mengundang intrik dan kontroversi tersendiri dalam hati Bu Annisa.

***

                Dua hari kemudian, disebuah jalan terlihat Bu Annisa sedang berjalan. Lalu dari arah yang berlawanan, ada Pak Fadil, yaitu ketua RT. Tak lama, mereka pun mulai mengobrol. Pembicaraan yang terlihat santai. Tangan Bu Annisa sedang menenteng plastik yang entah isinya apa.

-          Babak 3.A
Bu Annisa            : “Eh, ada Pak Fadil.
Pak Fadil              : “Wah, Bu Annisa. Apa kabar, Bu?” (menjabat tangan Bu Annisa)
Bu Annisa            : “Alhamdulillah, sehat seperti biasa, Pak. (balas menjabat tangan Pak Fadil) Bapak sendiri?”
Pak Fadil              : “Bikhoiri walhamdulillah, Bu.”
Bu Annisa            : “Bagus lah, Pak, jika sehat-sehat saja. Bapak habis pulang dari rapat RT, ya?”
Pak Fadil              : “Iya, Bu. Hehehe… Bu Annisa sendiri habis darimana?”
Bu Annisa            : “Dari pasar, Pak. Ini, belanja kebutuhan dapur.” (mengangkat plastik belanjaan)
Pak Fadil              : “Ah, begitu~ Oh, iya. Apakah ibu sudah mendaftarkan sapi-sapi dan kambing-kambing ibu ke Panitia Qurban?”
Bu Annisa            : “Sudah, Pak. Sudah dari jauh-jauh hari saya daftar.”
Pak Fadil              : “Wah, kalau begitu bagus, Bu. Berarti ibu memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.”
Bu Annisa            : “Iya, Pak. Saya memang sudah sangat niat untuk ber-qurban dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya.”

                Saat sedang mengobrol, tiba-tiba datang dua ibu-ibu yang diketahui bernama Bu Sindi dan Bu Endah. Duo maut yang sangat up-to-date jika ada hal yang berbau-bau gossip atau rumor, baik itu fiksi atau fakta.
-          Babak 3.B
Bu Sindi                               : “Eh, ternyata ada Pak RT sama Bu Annisa disini.” (dengan nada agak sinis)
Bu Annisa            : “Eh, Bu Sindi dan Bu Endah.” (tersenyum)
Pak Fadil              : “Bu Sindi dan Bu Endah darimana, ya? Makin hari makin terlihat kompak saja, nih.”
Bu Sindi                               : “Dari warung, Pak.”
Bu Endah             : “Iya, dong, Pak. Kami kan memang selalu kompak. (mimik bangga) Eh, Bu. Memangnya ibu benar-benar mau ngurbanin 8 kambing sama 7 sapi, ya?” (menoleh ke Bu Annisa, agak sewot)
Bu Annisa            : “Iya, Bu. Memangnya kenapa, ya?” (ekspresi bingung)
Bu Endah             : “Wah, niat sekali ya, Bu.” (nada menyindir)
Bu Annisa            : (tertawa pelan) “Kalau saya tidak niat, saya tidak akan sampai qurban sebanyak itu, Bu.”
Bu Endah & Bu Sindi : (berpandangan lalu mengangkat bahu dan memutar bola mata)
Bu Sindi                               : “Eh, Bu. Nanti Minggu ikut pengajian, kan? Kalau sampe kagak ikut, awas ye.”
Bu Annisa            : “Insya Allah saya ikut, Bu.”
Bu Endah             : “Bagus, lah. Orang kaya yang ngurbanin banyak masa’ tidak ikut pengajian, kan aneh.”
Bu Sindi                               : “Benar, tuh. Nanti kagak barokah lagi itu qurbannye.”
Pak Fadil              : “Hush… Bu Endah dan Bu Sindi ini bicara apa, sih. Tidak boleh bicara seperti itu, Bu.”
Bu Endah & Bu Sindi : (cengengesan) “Maaf, Bu. Hehehe…”
Bu Annisa            : (tertawa pelan) “Tidak apa-apa, Bu.”

                Tanpa mereka sadari, ternyata ada seorang pemuda sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Tidak diketahui siapa pemuda itu, yang jelas pemuda itu terlihat mengangguk-nganggukan kepalanya sambil sesekali mengepalkan tangan, seperti sedang kesenangan atau memberi semangat.

***

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari dimana Pak Akbar dan Pak Andriyana akan melakukan ‘niat mulia’ yang hanya mereka berdua, Tuhan, dan penulis naskah yang tahu apa yang dimaksud dengan ‘niat mulia’ itu. Dari luar, keadaan rumah Bu Annisa terlihat sedang kosong sehingga memudahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah dengan sangat mulus, tanpa diketahui si pemilik rumah ataupun tetangganya. Cuaca cukup gelap saat itu, selain karena faktor sudah sore ditambah juga oleh awan hitam yang menggumpal diatas terlihat begitu jelas. Pak Andriyana dan Pak Akbar pun mulai melancarkan aksi mereka ditemani oleh keheningan yang mendera.

-          Babak 4.A
Pak Andriyana   : (membuka pintu, masuk dengan mengendap-ngendap, menoleh ke belakang) “Bar! Bar! Cepat masuk! Kau jaga disini saja! Jangan jaga diluar, nanti dikira apa! Kemari cepat!”
Pak Akbar            : “Siap, lah! (masuk dengan mengendap-ngendap, celingukan) Kosong gini atuh rumahnya, Kang? Tidak ada orang atau bagaimana ini, teh?” (suara pelan)
Pak Andriyana   : “Shuuut!  Jangan berisik lah, Bar! Nasib baik ini rumah sedang kosong.”
Pak Akbar            : (mengangguk) “Kang, yakin Bu Annisanya sedang tidak ada dirumah?” (ekspresi khawatir)
Pak Andriyana   : “Aku yakin, lah! Sudah aku bilang, aku kan mendengar percakapan mereka kemarin!”
Pak Akbar            : “Oh, iya atuh, Kang.”
Pak Andriyana   : “Bar, kau periksa ruangan itu, aku periksa yang bagian sini.”
Pak Akbar            : “Siap, Kang!”
               
Saat kedua pemuda itu tengah sibuk melakukan ‘niat mulia’ mereka, tiba-tiba Citra masuk ke dalam rumah dalam keadaan cukup kaget dan panik. Pasalnya, saat dia meninggalkan rumah, dia benar-benar yakin bahwa dia telah menutup pintu rumah itu. Lagipula, Citra merasa dia tidak seberapa lama dia pergi. Tapi kenapa bisa saat kembali, pintu rumah dalam keadaan terbuka?

-          Babak 4.B
Citra                      : (kaget, terdiam didekat pintu) “Lho? Kenapa pintu bisa tiba-tiba terbuka? Perasaan sewaktu aku pergi, pintu ini sudah ditutup…” (ekspresi bingung)
               
                Citra pun makin bingung karena merasa ada hawa aneh saat mulai memasuki rumahnya sendiri. Dan dia kaget bukan kepalang saat matanya menangkap 2 sosok yang entah kenapa terlihat misterius dengan pakaian khas ‘pencuri’ berada didalam rumahnya. Posisi kedua sosok yang diduga pencuri itu sedang membelakangi Citra dan sedang mengendap-ngendap, hal ini memudahkan Citra untuk kembali ke luar rumah untuk meminta bantuan atau untuk membuat Citra dengan enaknya melempari pencuri tersebut dengan barang yang ada. Tapi ternyata, Citra malah memutuskan untuk bersembunyi dibalik meja yang ada diruangan itu.

-          Babak 4.C
Citra                      : “Aduh… Aku harus bagaimana ini? Ada 2 lagi pencurinya! (mengepal-ngepalkan tangan, tak lama tersenyum lalu menjentikan jari) Ah, Aku tahu! Aku hanya butuh tali untuk hal ini!”

Citra terus berdiam diri sambil sesekali mengintip kedua pencuri yang masih saja sibuk di areanya masing-masing. Saat kedua pencuri itu berbalik, Citra langsung membekap mulutnya sendiri dan menunduk agar tidak diketahui oleh kedua pencuri itu.

-          Babak 4.D
Pak Akbar            : “Kang, kamar yang disana sedang dikunci!”
Pak Andriyana   : “Kamar yang disini juga dikunci. Hah… Dimana kira-kira dia menyimpan uang selain dikamarnya?” (berkacak pinggang)
Pak Akbar            : “Tidak tahu, Kang.” (membuang nafas)
Pak Akbar & Pak Andriyana : (ekspresi bingung, berjalan sejajar menuju ruangan yang ada didekat pintu)
Citra                      : (mengintip sedikit, mendadak mengulurkan kakinya)
Pak Akbar & Pak Andriyana : “Aaaaa......” (kaget, terjatuh)
Citra                      : (berdiri, menendang Pak Akbar & Pak Andriyana) “Dasar pencuri! Rasakan ini!”
Pak Akbar & Pak Andriyana : “Aw… Aw…” (kesakitan)

                Saat dirasa oleh Citra kedua pencuri itu sudah tidak bisa bergerak, Citra langsung mengambil tali yang berada dibawah meja tempat persembunyiannya. Diapun mengikat kedua pencuri itu. Lalu, berlari keluar untuk memanggil bala bantuan. Tak lama, Bu Annisa si pemilik rumah, datang ke tempat kejadian perkara beserta Pak Fadil dan Citra.

-          Babak 4.E
Bu Annisa            : “Astaghfirullah haladzim! Citra, ada apa ini?” (terkaget)
Citra                      : “Itu, Bu! Sepertinya mereka mau mencuri uang, deh!”
Pak Fadil              : “Kenapa sekarang mereka bisa terikat seperti itu?”
Citra                      : “Intinya saya yang membuat mereka bisa terikat seperti itu, Pak. Hebat, kan? Hehehe…”
Bu Annisa            : “Tapi kamu tidak apa-apa, kan?”
Citra                      : “Tidak apa-apa kok, Bu.”
Pak Fadil              : (menghampiri Pak Akbar & Pak Andriyana) “Siapa sebenarnya pencuri-pencuri ini?” (membuka penutup muka Pak Akbar & Pak Andriyana)
Pak Fadil, Citra & Bu Annisa : (terkaget)
Bu Annisa            : “Lho? Petugas keamanan komplek?”
Pak Fadil              : “Petugas keamanan komplek?! (mimik bingung) Mereka adalah Pak Akbar & Pak Andriyana, Bu. Mereka bukan petugas keamanan komplek.”
Bu Annisa            : “Oh… Jadi kalian menipu saya kemarin-kemarin itu?”
Pak Akbar & Pak Andriyana : (cengengesan)
Citra                      : “Sekarang mereka mau diapakan, Pak? Bu?”
Pak Fadil              : “Mereka akan saya bawa ke kantor polisi saja.”
Pak Akbar & Pak Andriyana : “Apa? Kantor polisi?” (kaget)
Pak Andriyana   : “Tidak! Tidak! Tidak! Kami bisa jelaskan semuanya disini! Tolong, Pak! Jangan ke kantor polisi!” (memelas)
Pak Akbar            : “Pak! Bu! Saya teh ikut ini hanya ingin membantu Pak Andriyana saja, tidak lebih!” (ekspresi menuntut hak)
Pak Fadil              : “Ah, banyak bicara kalian! Jelaskan semuanya nanti dikantor polisi saja!” (membimbing Pak Akbar & Pak Andriyana agar berdiri)
Bu Annisa            : “Astaghfirullah haladzim… Bapak-bapak silahkan jelaskan semuanya dikantor polisi nanti, ya. Saya mau tahu, kenapa harus rumah saya yang dijadikan sasaran pencurian.”
Pak Akbar & Pak Andriyana : (menunduk)
Pak Fadil              : “Ayo, jalan. Kita ke kantor polisi sekarang. Mari, Bu. Ikut kami.”
Bu Annisa            : “Iya, Pak. Citra, kamu juga ikut. Kamu akan jadi saksi pencurian ini nantinya.”
Citra                      : “Oke, Bu!”


                Akhirnya, Pak Akbar dan Pak Andriyana dibawa ke kantor polisi terdekat oleh Pak Fadil untuk mendapatkan hukuman atas apa yang telah mereka perbuat. Bu Annisa yang hampir saja kemalingan pun ikut kesana untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Citra pun turut andil dalam hal ini, karena memang Citra lah yang pertama kali menemukan kedua pencuri bernasib sial tersebut. Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pak Akbar & Pak Andriyana gagal untuk mendapatkan uang, dan sepertinya malah harus melaksanakan Idul Adha atau Lebaran Kambing dibalik jeruji. Akhir yang menarik, bukan?

Elissa Dara P.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar