Minggu, 10 November 2013

Naskah Drama : 'Niat Mulia'

Dua orang pemuda lanjut usia tengah duduk bersama disebuah halaman. Sesekali salah satu diantaranya menghisap rokok yang berada ditangan kanannya, sedangkan yang lainnya menguap sambil menggaruk-garuk bagian tubuhnya. Cuaca sangat cerah saat itu, kontras sekali dengan mimik wajah kedua pemuda lanjut usia tersebut yang terkesan suram, tidak bertenaga, lemah, lelah, lunglai, letih dan lesu. Keadaan terus hening sampai akhirnya salah satu diantaranya memulai percakapan.

-          Babak 1.A
Pak Andriyana   : “Macam mana pula ini… Sebentar lagi Lebaran Kambing, dan aku tak ada uang untuk beli kambing.”
Pak Akbar            : “Betul, Kang. Saya juga tidak punya uang. Padahal, saya ingin beli kambing yang seperti di TV.”
Pak Andriyana   : “Yang di TV? Kambing macam apa pula itu?”
Pak Akbar            : “Yang… Sa… Sa… Saun… Shaun The Sheep kalau tidak salah, mah.”
Pak Andriyana   : “Bah! Itu kambing hanya animasi! Apa pula kau ini, Bar!”
Pak Akbar            : “Oh, jadi itu teh hanya animasi? Aslinya mah tidak ada yang seperti itu?”
Pak Andriyana   : “Jelas tidak ada!”
Pak Akbra            : “Padahal mah, bagus sekali kambing seperti itu teh. Sangat kreatif dan cerdik. Seperti kancil.”
Pak Andriyana   : “Kau ini bagaimana pula? Yang seperti itu tidak ada didunia ini. Impossible itu, impossible!”
Pak Akbar            : “Wah, saya mah baru tahu, euy!”
Pak Andriyana   : “Ah, terserah kau saja! Yang jelas, bagaimana caranya agar kita bisa dapatkan banyak uang tanpa harus susah-susah cari kerja dulu? Kau ada ide tidak?”
Pak Akbar            : “Mana ada atuh yang seperti itu… Kita teh harus usaha dulu, baru dapat uang. Kalau yang instan mah, hanya mie saja sepertinya, Kang.”
Pak Andriyana   : “Bicara apa kau ini, Bar? Mie? Instan? Ngawur sekali kau ini.”

Tiba-tiba, dua orang ibu-ibu datang dan berhenti tidak jauh dari tempat kedua pemuda lanjut usia itu sedang duduk.

-          Babak 1.B
Bu Endah             : “Bu, tahu gak?”
Bu Sindi               : “Kagak, lah. Lu kan belum ngasih tahu.”
Bu Endah             : “Ya, kan belum selesai, Bu.”
Bu Sindi                : “Oh, oke. Lanjut.”
Ibu Endah            : “Itu lho, Bu. Tetangga baru kita itu, katanya mau ngurbanin 7 sapi, Bu!”
Bu Sindi              : “7? Serius lu?”
Ibu Endah            : “Iya, Bu! Serius, lah!”
Bu Sindi                : “Niat amat itu orang pake ngurbanin 7 sapi segala!”
Bu Endah             : “Eh, masih ada, Bu! Dia juga mau ngurbanin 8 kambing!”
Bu Sindi                : “Buset! Itu orang punya uang berapa banyak? Bagi-bagi dikit ke tetangga bisa kali, ye!”
Bu Endah             : “Nah, benar, Bu! Qurban saja yang banyak, bagi-bagi ke tetangga tidak.”
Bu Sindi               : “Iye, dasar pelit. Eh, denger-denger, die janda, ye?”
Bu Endah             : “Iya, Bu. Katanya sih, ditinggal mati suaminya yang banyak uang. Pengusaha yang mati muda gitu, Bu.”
Bu Sindi               : “Kasihan, ye. Udah pelit, janda lagi. Eh! Hehehe…”
Bu Endah             : “Iya, Bu. Tapi enak lho, janda kaya raya, gitu.”
Bu Sindi               : “Iye ye, bener juga.”
Bu Endah             : “Ah, sudah, Bu. Ayo jalan lagi.”

Ke dua ibu-ibu tukang gosip itu pun pergi. Dan terlihatlah dua pemuda lanjut usia yang salah satunya tampak sedang memikirkan sesuatu.

-          Babak 1.C
Pak Andriyana   : “Bar, kau dengar percakapan ibu-ibu tadi itu?”
Pak Akbar            : “Yang qurban 9 sapi dan 11 kambing?”
Pak Andriyana   : “Ya semua percakapan mereka, lah!”
Pak Akbar            : “Oh, iya saya dengar. Memang kenapa atuh, Kang?”
Pak Andriyana   : “Shuut!!! Kemari, Bar! Aku punya bisnis agar kita bisa dapat uang dengan cepat tanpa harus kerja dahulu!”
Pak Akbar            : “Wah! Bisnis apa itu?”
Pak Andriyana   : (membisikan sesuatu kepada Pak Akbar)
Pak Akbar            : “Astaghfirullahaladzim, Kang! Itu mah tidak baik untuk dilakukan!” (mimik kaget)
Pak Andriyana   : “Bah! Kau ini bagaimana, sih? Katanya butuh uang juga? Ayolah… Ini menarik dan mudah dilakukan sepertinya.”
Pak Akbar            : (berpikir keras) “Ya, sudahlah, Kang. Saya mah nurut saja.” (ekspresi pasrah)
Pak Andriyana   : (menepuk pundak Pak Akbar) “Bagus! Hahaha… Jadi sekarang, kita observasi dulu, Bar. Besok-besok, baru kita lancarkan misi kita. Setuju?”
Pak Akbar            : “Saya setuju saja, kang.”

Kedua pemuda lanjut usia itu pun pergi dari halaman tersebut. Entah apa yang mereka rencanakan, yang jelas kini mereka akan pergi ke suatu tempat. Tempat yang mungkin akan membawa berkah bagi mereka agar mereka bisa dapat uang dengan cara instan, seinstan mie seperti yang Pak Akbar katakan. 

Naskah Drama : 3 SEKAWAN


Sebuah cerita ada tiga sekawan bernama Imam, Ari, dan Ratna, mereka sedang ada di kelas pengasingan, yakni kelas yang terdapat sekelompok siswa-siswi yang tidak/kurang minat belajar.

Pada suatu hari, akan dilaksanakan ulangan fisika, Imam merupakan satu-satunya siswa dari mereka bertiga yang paling pintar, Ratna hanya pintar dalam 1 bidang saja, yaitu bidang musik, sementara Ari merupakan siswa yang sangat patuh pada perintah Ibunya.

Setelah selesai ulangan fisika, nilai Ari dan Ratna sangat buruk sekali, Ratna mendapat 41 dan Ari mendapat 34.

Imam   : “eh.. kalian ini, aku yakin nanti malam kalian akan diceramahi.
Ratna   : “alah.. aku sudah terbiasa, lebih baik main gitar daripada pusing-pusing, Ibuku juga nanti diam sendiri.”
Ari       : “apapun yang Ibuku katakan, aku akan menurutinya, udah gitu aja”
Ratna   : ”kalau Ibumu menyuruhmu memakan kotoran ayam, apa kamu mau melakukannya?”
Ari       : ”kenapa tidak? Asalkan Ibuku yang menyuruh, kotoran apapun pasti aku makan”

Imam dan Ratna merasa sangat merinding mendengar jawaban tersebut. Tidak lama kemudian datang Adi, salah satu siswa dari kelas unggulan

Adi      : “hah 71? Kamu 43? Ini lagi 34? Nilai 71 itu yang paling rendah dikelasku, lihat ini 97.”
Ratna   : ”Ah.. peduli amat lah!“
Adi      : “hem.. dasar para pelajar buangan!”
Imam   : “hey, apa maksud kamu berbicara seperti itu?”
Ratna   : “kurang ajar banget sih, rasakan ini!”

Ratna lalu menampar Adi, lantas tidak lama kemudian orang-orang disekitar melapornya ke ruang kepala sekolah

Siti       : “Ratna apa benar kamu menamparnya ?”
Adi      : “dia menamparku disini! (sambil menunjuk pipinya yang merah)
Ratna   : “dia mengejekku duluan bu, jadi aku ya balas tampar dia”
Imam   : ”benar, aku saksinya, Adi mengejeknya, dan Ratna terpancing emosi hingga dia menamparnya”
Siti       : ”apapun itu, setidaknya kamu butuh dua saksi untuk mengelak”
Imam & Ratna : ARI!“

Lalu Ari datang sambil menangis

Ari       : ”aku tidak melihat apa-apa”
Imam & Ratna : “Heeee!”
Ari       : ”Ibuku bilang aku tidak boleh ikut campur”
Siti       : ”Baiklah Ratna, Ibu akan laporkan kamu pada Ibumu”
Ratna   : ”ya sudah terserah kamu sajalah apa mau kamu
Siti       : ”apa kamu bilang?”
Imam   : ”dia nggak ngomong apa-apa bu”
Siti       : ”baiklah, sekarang kalian boleh keluar”

Sebuah Tim


Tim? Apa itu tim? Tim adalah kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi dan berkomitmen untuk mecapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. (Hunsaker, 2001)

Dikehidupan kita sehari-hari, sebenarnya kita telah sering melakukan sesuatu bersama sebuah 'tim', baik kita sadari ataupun tidak kita sadari. Seperti misalnya, kita menanyakan pendapat tentang 'bagaimana seharusnya kelas kita didekorasi?', dan ada yang menanggapi harus dirapikan terlebih dahulu, lalu ada yang menambahkan bahwa kelas harus dibersihkan setiap hari, dan hal-hal tersebut membuat kita menjadi membicarakan soal 'dekor kelas' bersama teman sekelas yang bisa kita anggap sebagai ‘tim’.

Tim sebenarnya cukup dibutuhkan dalam kehidupan kita. Di sekolah atau lebih tepatnya di kelas, kita membutuhkan sebuah tim inti untuk mengurus kelas. Tim inti yang dimaksud disini adalah organisasi kelas. Tim yang terbentuk dari susunan ketua kelas, lalu wakil ketua kelas, sekertaris 1, sekertaris 2, bendahara 1 dan bendahara 2 ini merupakan tim yang nantinya akan membawa nama baik kelas. Terkesan berlebihan memang, tapi hal itu merupakan hal yang harus diakui kebenarannya.

Pidato : Yang Muda Yang Menginspirasi

Tema : Saatnya yang muda yang menginspirasi

Assamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

                Pertama-tama marilah kita panjatkan  puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahNya, allhamulillah kita dapat berkumpul dalam acara ini.

                Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah limpahkan  kepada Rasulullah , Muhammad SAW. Kepada keluarganya, para sahabatnya dan tak lupa kepada kita selaku umatnya yang Isya Allah patuh dan taat pada ajarannya.

                Dalam kesempatan ini  saya akan mengambil sebuah tema yaitu “Saatnya yang muda yang menginspirasi”, tema ini saya ambil karena terispirasi dari sebuah puisi .  Ada yang bisa melihat tapi tak bisa menedngar,  ada yang bisa mendengar tapi tak bisa berbicara, ada yang bisa berbicara tapi suka-suka, saatnya yang muda yang berbicara.  Apa itu pemuda ?, pemuda adalah salah satu pilar bangsa dalam kehidupan, tanpa pemuda sebuah negara akan kehilangan makna sebagai  sebuah negara.

                Kita ingat bahwa tanggal 28 Oktober 1928  telah terjadi sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah kita yaitu IKRAR SUMPAH PEMUDA. Yang mana isi dari ikrar sumpah pemuda memiliki makna yang dalam bagi perjalanan bangsa ini. Isi dari ikrar sumpah pemuda diantaranya :


Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.