Dua
orang pemuda lanjut usia tengah duduk bersama disebuah halaman. Sesekali salah
satu diantaranya menghisap rokok yang berada ditangan kanannya, sedangkan yang
lainnya menguap sambil menggaruk-garuk bagian tubuhnya. Cuaca sangat cerah saat
itu, kontras sekali dengan mimik wajah kedua pemuda lanjut usia tersebut yang
terkesan suram, tidak bertenaga, lemah, lelah, lunglai, letih dan lesu. Keadaan
terus hening sampai akhirnya salah satu diantaranya memulai percakapan.
-
Babak
1.A
Pak
Andriyana : “Macam mana pula ini…
Sebentar lagi Lebaran Kambing, dan aku tak ada uang untuk beli kambing.”
Pak Akbar : “Betul, Kang. Saya juga tidak
punya uang. Padahal, saya ingin beli kambing yang seperti di TV.”
Pak
Andriyana : “Yang di TV? Kambing macam
apa pula itu?”
Pak Akbar : “Yang… Sa… Sa… Saun… Shaun The
Sheep kalau tidak salah, mah.”
Pak Andriyana : “Bah! Itu kambing hanya animasi! Apa pula
kau ini, Bar!”
Pak Akbar : “Oh, jadi itu teh hanya animasi?
Aslinya mah tidak ada
yang seperti itu?”
Pak
Andriyana : “Jelas tidak ada!”
Pak Akbra : “Padahal mah, bagus sekali kambing
seperti itu teh. Sangat kreatif dan cerdik. Seperti kancil.”
Pak
Andriyana : “Kau ini bagaimana pula?
Yang seperti itu tidak ada didunia ini. Impossible itu, impossible!”
Pak Akbar : “Wah, saya mah baru tahu, euy!”
Pak
Andriyana : “Ah, terserah kau saja! Yang
jelas, bagaimana caranya agar kita bisa dapatkan banyak uang tanpa harus
susah-susah cari kerja dulu? Kau ada ide tidak?”
Pak Akbar : “Mana ada atuh yang seperti itu…
Kita teh harus usaha dulu, baru dapat uang. Kalau yang instan mah, hanya mie
saja sepertinya, Kang.”
Pak Andriyana : “Bicara apa kau ini, Bar? Mie? Instan?
Ngawur sekali kau ini.”
Tiba-tiba,
dua orang ibu-ibu datang dan berhenti tidak jauh dari tempat kedua pemuda
lanjut usia itu sedang duduk.
-
Babak
1.B
Bu Endah : “Bu, tahu gak?”
Bu Sindi :
“Kagak, lah. Lu kan belum ngasih tahu.”
Bu Endah : “Ya, kan belum selesai, Bu.”
Bu Sindi :
“Oh, oke. Lanjut.”
Ibu Endah : “Itu lho, Bu. Tetangga baru kita
itu, katanya mau ngurbanin 7 sapi, Bu!”
Bu Sindi :
“7? Serius lu?”
Ibu Endah : “Iya, Bu! Serius, lah!”
Bu Sindi :
“Niat amat itu orang pake ngurbanin 7 sapi segala!”
Bu Endah : “Eh, masih ada, Bu! Dia juga mau
ngurbanin 8 kambing!”
Bu Sindi :
“Buset! Itu orang punya uang berapa banyak? Bagi-bagi dikit ke tetangga bisa
kali, ye!”
Bu Endah : “Nah, benar, Bu! Qurban saja yang
banyak, bagi-bagi ke tetangga tidak.”
Bu Sindi :
“Iye, dasar pelit. Eh, denger-denger, die janda, ye?”
Bu Endah : “Iya, Bu. Katanya sih, ditinggal
mati suaminya yang banyak uang. Pengusaha yang mati muda gitu, Bu.”
Bu Sindi :
“Kasihan, ye. Udah pelit, janda lagi. Eh! Hehehe…”
Bu Endah : “Iya, Bu. Tapi enak lho, janda
kaya raya, gitu.”
Bu Sindi :
“Iye ye, bener juga.”
Bu Endah : “Ah, sudah, Bu. Ayo jalan lagi.”
Ke
dua ibu-ibu tukang gosip itu pun pergi. Dan terlihatlah dua pemuda lanjut usia
yang salah satunya tampak sedang memikirkan sesuatu.
-
Babak
1.C
Pak
Andriyana : “Bar, kau dengar percakapan
ibu-ibu tadi itu?”
Pak Akbar : “Yang qurban 9 sapi dan 11
kambing?”
Pak
Andriyana : “Ya semua percakapan mereka,
lah!”
Pak Akbar : “Oh, iya saya dengar. Memang
kenapa atuh, Kang?”
Pak
Andriyana : “Shuut!!! Kemari, Bar! Aku
punya bisnis agar kita bisa dapat uang dengan cepat tanpa harus kerja dahulu!”
Pak Akbar : “Wah! Bisnis apa itu?”
Pak
Andriyana : (membisikan sesuatu kepada Pak Akbar)
Pak Akbar : “Astaghfirullahaladzim, Kang! Itu
mah tidak baik untuk dilakukan!” (mimik
kaget)
Pak
Andriyana : “Bah! Kau ini bagaimana,
sih? Katanya butuh uang juga? Ayolah… Ini menarik dan mudah dilakukan
sepertinya.”
Pak Akbar : (berpikir keras) “Ya, sudahlah, Kang. Saya mah nurut saja.” (ekspresi pasrah)
Pak
Andriyana : (menepuk pundak Pak Akbar) “Bagus! Hahaha… Jadi sekarang, kita
observasi dulu, Bar. Besok-besok, baru kita lancarkan misi kita. Setuju?”
Pak Akbar : “Saya setuju saja, kang.”
Kedua
pemuda lanjut usia itu pun pergi dari halaman tersebut. Entah apa yang mereka
rencanakan, yang jelas kini mereka akan pergi ke suatu tempat. Tempat yang
mungkin akan membawa berkah bagi mereka agar mereka bisa dapat uang dengan cara
instan, seinstan mie seperti yang Pak Akbar katakan.